Rabu, 13 Juni 2012

PRINSIP DAN TEKNIK KOMUNIKASI DALAM PENGKAJIAN KEPERAWATAN KELOMPOK KHUSUS RETARDASI MENTAL


BAB II
PEMBAHASAN

2. 1       Komunikasi Terapeutik Keperawatan
A      Pengertian Komunikasi Terapeutik
Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar, bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien. Komunikasi terapeutik termasuk komunikasi interpersonal dengan titik tolak saling memberikan pengertian antar perawat dengan pasien. Persoalan mendasar dan komunikasi in adalah adanya saling membutuhan antara perawat dan pasien, sehingga dapat dikategorikan ke dalam komunikasi pribadi di antara perawat dan pasien, perawat membantu dan pasien menerima bantuan (Indrawati, 2003: 48).
Komunikasi terapeutik bukan pekerjaan yang bisa dikesampingkan, namun harus direncanakan, disengaja, dan merupakan tindakan profesional. Akan tetapi, jangan sampai karena terlalu asyik bekerja, kemudian melupakan pasien sebagai manusia dengan beragam latar belakang dan masalahnya (Arwani, 2003 50).

B       Tujuan Komunikasi Terapeutik
Membantu pasien untuk memperjelas dan mengurangi beban perasaan dan pikiran serta dapat mengambil tindakan yang efektif untuk pasien, membantu mempengaruhi orang lain, lingkungan fisik dan diri sendiri.
Kualitas asuhan keperawatan yang diberikan kepada klien sangat dipengaruhi oleh kualitas hubungan perawat-klien, Bila perawat tidak memperhatikan hal ini, hubungan perawat-klien tersebut bukanlah hubungan yang memberikan dampak terapeutik yang mempercepat kesembuhan klien, tetapi hubungan sosial biasa. (Indrawati, 2003 48).

C      Jenis Komunikasi Terapeutik
Komunikasi merupakan proses kompleks yang melibatkan perilaku dan memungkinkan individu untuk berhubungan dengan orang lain dan dunia sekitarnya. Menurut Potter dan Perry (1993) dalam Purba (2003), komunikasi terjadi pada tiga tingkatan yaitu intrapersonal, interpersonal dan publik.
Menurut Potter dan Perry (1993), Swansburg (1990), Szilagyi (1984), dan Tappen (1995) dalam Purba (2003) ada tiga jenis komunikasi yaitu verbal, tertulis dan non-verbal yang dimanifestasikan secara terapeutik.
1.      Komunikasi Verbal
Jenis komunikasi yang paling lazim digunakan dalam pelayanan keperawatan di rumah sakit adalah pertukaran informasi secara verbal terutama pembicaraan dengan tatap muka. Komunikasi verbal biasanya lebihakurat dan tepat waktu. Kata-kata adalah alat atau simbol yang dipakai untuk mengekspresikan ide atau perasaan, membangkitkan respon emosional,atau menguraikan obyek, observasi dan ingatan. Sering juga untuk menyampaikan arti yang tersembunyi, dan menguji minat seseorang. Keuntungan komunikasi verbal dalam tatap muka yaitu memungkinkan tiap individu untuk berespon secara langsung.
Komunikasi Verbal yang efektif harus:
a.       Jelas dan ringkas
b.      Perbendaharaan Kata (Mudah dipahami)
c.       Arti denotatif dan konotatif
d.      Selaan dan kesempatan berbicara
e.       Waktu dan Relevansi
f.       Humor

2.      Komunikasi Tertulis
Komunikasi tertulis merupakan salah satu bentuk komunikasi yang sering digunakan dalam bisnis, seperti komunikasi melalui surat menyurat, pembuatan memo, laporan, iklan di surat kabar dan lain- lain.
a.       Prinsip-prinsip komunikasi tertulis terdiri dari:
1)      Lengkap
2)      Ringkas
3)      Pertimbangan
4)      Konkrit
5)      Jelas
6)      Sopan, dan Benar
b.      Fungsi komunikasi tertulis adalah:
1)      Sebagai tanda bukti tertulis yang otentik, misalnya; persetujuan operasi.
2)      Alat pengingat/berpikir bilamana diperlukan, misalnya surat yang telah diarsipkan.
3)      Dokumentasi historis, misalnya surat dalam arsip lama yang digali kembali untuk mengetahui perkembangan masa lampau.
4)      Jaminan keamanan, umpamanya surat keterangan jalan.
5)      Pedoman atau dasar bertindak, misalnya surat keputusan, surat perintah, surat pengangkatan.
c.       Keuntungan komunikasi tertulis adalah:
1)      Adanya dokumen tertulis
2)      Sebagai bukti penerimaandan pengiriman
3)      Dapat menyampaikan ide yang rumit
4)      Memberikan analisa, evaluasi dan ringkasan
5)      Menyebarkan informasi kepada khalayak ramai
6)      Dapat menegaskan, menafsirkan dan menjelaskan komunikasi lisan
7)      Membentuk dasar kontrak atau perjanjian
8)      Untuk penelitian dan bukti di pengadilan
d.      Kerugian Komunikasi tertulis adalah:
1)      Memakan waktu lama untuk membuatnya
2)      Memakan biaya yang mahal
3)      Komunikasi tertulis cenderung lebih formal
4)      Dapat menimbulkan masalah karena salah penafsiran
5)      Susah untuk mendapatkan umpan balik segera
6)      Bentuk dan isi surat tidak dapat di ubah bila telah dikirimkan
7)      Bila penulisan kurang baikmaka akan membingungkan si pembaca



3.      Komunikasi Non Verbal
Komunikasi non-verbal adalah pemindahan pesan tanpa menggunakan kata-kata. Merupakan cara yang paling meyakinkan untuk menyampaikan pesan kepada orang lain. Perawat perlu menyadari pesan verbal dannon-verbal yang disampaikan klien mulai dan saat pengkajian sampai evaluasi asuhan keperawatan, karena isyarat non verbal menambah arti terhadap pesan verbal. Perawat yang mendektesi suatu kondisi dan menentukan kebutuhan asuhan keperawatan.
Morris (1977) dalam Liliweni (2004) membagi pesan non verbal sebagai berikut:
a.       Kinesik. Kinesik adalah pesan non verbal yang diimplementasikan dalam bentuk bahasa isyarat tubuh atau anggota tubuh.
b.      Proksemik. Proksemik yaitu bahasa non verbal yang ditunjukkan oleh “ruang” dan “jarak” antara individu dengan orang lain waktu berkomunikasi atau antara individu dengan objek.
c.       Haptik. Haptik seringkali disebut zero proxemics, artinya tidak ada lagi jarak di antara dua orang waktu berkomunikasi.
d.      Paralinguistik. Paralinguistik meliputi setiap penggunaan suara sehingga dia bermanfaat kalau kita hendak menginterprestasikan simbol verbal.
e.       Artifak. Kita memehami artifak dalam komunikasi komunikasi non verbal dengan pelbagai benda material disekitar kita, lalu bagaimana cara benda-benda itu digunakan untuk menampilkan pesan tatkala dipergunakan.
f.       Logo dan Warna. Kreasi pan perancang untuk menciptakan logo dalam penyuluhan merupakan karya komunikasi bisnis. Biasanya logo dirancang untuk dijadikan simbol dalam suatu karya organisasi atau produk dalam suatu organisasi.
g.      Tampilan Fisik Tubuh. Kita sering menilai seseorang mulai dari warna kulitnya, tipe tubuh (atletis, kurus, ceking, bungkuk, gemuk, gendut, dan lain-lain). Tipe tubuh itu merupakan cap atau warna yang kita berikan kepada orang itu.
D      Karakteristik Komunikasi Terapeutik
Ada tiga hal mendasar yang memberi ciri-ciri komunikasi terapeutik yaitu sebagai berikut: (Arwani, 2003: 54).
1.      Ikhlas (Genuiness). Semua perasaan negatif yang dimiliki oleh pasien barus bisa diterima dan pendekatan individu dengan verbal maupun non verbal akan memberikan bantuan kepada pasien untuk mengkomunikasikan kondisinya secara tepat.
2.      Empati (Empathy). Merupakan sikap jujur dalam menerima kondisi pasien. Obyektif dalam memberikan penilaian terhadap kondisi pasien dan tidak berlebihan.
3.      Hangat (Warmth). Kehangatan dan sikap permisif yang diberikan diharapkan pasien dapat memberikan dan mewujudkan ide-idenya tanpa rasa takut, sehingga pasien bisa mengekspresikan perasaannya lebih mendalam.

E       Fase-Fase dalam Komunikasi Terapeutik
1.      Fase Pra-Interaksi
Pada fase ini perawat mengkaji kemampuan diri, rasa cemas, takut, identifikasi klien dan sebagainya.
Tugas perawat pada tahap ini antara lain:
a.       Mengeksplorasi perasaan, harapan, dan kecemasan
b.      Menganalisis kekuatan dan kelemahan sendiri
c.       Mengumpulkan data tentang klien
d.      Merencanakan pertemuan yang pertama dengan klien
2.      Fase Orientasi
Pada fase ini hubungan yang terjadi masih dangkal dan komunikasi yang terjadi bersifat penggalian informasi antara perawat dan pasien. Fase ini dicirikan oleh lima kegiatan pokok yaitu testing, building trust, identification of problems and goal, clarification of roles dan contract formation. Perkenalan merupakan kegiatan yang dilakukan saat pertama kali bertemu atau kontak dengan klien. Pada saat berkenalan, perawat harus memperkenalkan dirinya terlebih dahulu kepada klien.
Dengan memperkenalkan dirinya berarti perawat telah bersikap terbuka pada klien dan ini diharapkan akan mendorong klien untuk membuka dirinya. Tujuan tahap ini adalah untuk memvalidasi keakuratan data dan rencana yang telah dibuat dengan keadaan klien saat ini, serta mengevaluasi hasil tindakan yang lalu (Stuart, G.W dalam Suryani, 2005).
Tugas perawat pada tahap ini antara lain:
a.       Membina rasa saling percaya, menunjukkan penerimaan, dan komunikasi terbuka. Hubungan saling percaya merupakan kunci dari keberhasilan hubungan terapeutik.
b.      Merumuskan kontrak pada klien. Kontrak ini sangat penting untuk menjamin kelangsungan sebuah interaksi. Pada saat merumuskan kontrak perawat juga perlu menjelaskan atau mengklarifikasi peran-peran perawat dan klien agar tidak terjadi kesalah pahaman klien terhadap kehadiran perawat. Disamping itu juga untuk menghindari adanya harapan yang terlalu tinggi dari klien terhadap perawat karena karena klien menganggap perawat seperti dewa penolong yang serba bisa dan serba tahu.
c.       Menggali pikiran dan perasaan serta mengidentifikasi masalah klien. Pada tahap ini perawat mendorong klien untuk mengekspresikan perasaannya. Dengan memberikan pertanyaan terbuka, diharapkan perawat dapat mendorong klien untuk mengekspresikan pikiran dan perasaannya sehingga dapat mengidentifikasi masalah klien.
d.      Merumuskan tujuan dengan klien. Perawat perlu merumuskan tujuan interaksi bersama klien karena tanpa keterlibatan klien mungkin tujuan sulit dicapai. Tujuan ini dirumuskan setelah klien diidentifikasi.
3.      Fase Kerja
Pada fase ini perawat dituntut untuk bekerja keras untuk memenuhi tujuan yang telahditetapkan pada fase orientasi. Bekerja sama dengan pasien untuk berdiskusi tentang masalah-masalah yang merintangi pencapaian tujuan. Fase ini terdiri dari dua kegiatan pokok yaitu menyatukan proses komunikasi dengan tindakan perawatan dan membangun suasana yang mendukung untuk proses perubahan.
4.      Fase Terminasi
Pada fase ini perawat mendorong pasien untuk memberikan penilaian atas tujuan telah dicapai, agar tujuan yang tercapai adalah kondisi yang saling menguntungkan dan memuaskan. Kegiatan pada fase ini adalah penilaian pencapaian tujuan dan perpisahan (Arwani, 2003 61).

2. 2       Konsep Retardasi Mental
A.    Pengertian Retardasi Mental
RM mengarah pada keterbatasan beberapa fungsi utama.kelainan ini ditandai dengan fungsi intelektual yang sangat dibawah rata-rata dan secara bersamaan disertai dengan ditambah penekanan pada keterbatasan yang berhubungan dengan dua atau lebih area penerapan kemampuan adaptasi berikut ini : komunikasi, merawat diri sendiri, tinggal dirumah, keterapilan social, penggunaan sarana umum, mengarahkan diri sendiri, kesehatan dan keamanan, fungsi akademis, santai, dan bekerja. Retardasi mental bermanifestasi sebelum usia 18 tahun. (American Association on Mental Retardation; Washington DC, 1992).
Retardasi mental adalah kelainan atau kelemahan jiwa dengan inteligensi yang kurang (subnormal) sejak masa perkembangan (sejak lahir atau sejak masa anak). Biasanya terdapat perkembangan mental yang kurang secara keseluruhan, tetapi gejala yang utama ialah inteligensi yang terbelakang. Retardasi mental disebut juga oligofrenia (oligo: kurang atau sedikit dan fren: jiwa) atau tuna mental (W.F. Maramis, 2005: 386).
Retardasi mental adalah suatu kondisi yang ditandai oleh intelegensi yang rendah yang menyebabkan ketidakmampuan individu untuk belajar dan beradaptasi terhadap tuntutan masyarakat atas kemampuan yang dianggap normal (Carter CH, Toback C).
Retardasi mental dapat diartikan sebagai suatu keadaan perkembangan mental yang terhenti atau tidak lengkap. Ini terutama terlihat selama masa perkembangan sehingga mempengaruhi pada semua tingkat intelegensia, yaitu kemampuan kognitif, bahasa, motorik dan sosial. Retardasi mental kadang disertai gangguan jiwa atau gangguan fisik lain
Berikut ini adalah klasifikasi retardasi mental yang ditunjukkan dengan bagan (Dr.wiguna & ika, 2005):
                       
1.      RM ringan (IQ 55-70): mulai tampak gejalanya pada usia sekolah dasar, misalnya sering tidak naik kelas, selalu memerlukan bantuan untuk mengerjakan pekerjaan rumah atau mengerjakan hal-hal yang berkaitan pekerjaan rumah atau mengerjakan hal-hal yang berkaitan dengan kebutuhan pribadi. 80 % dari anak RM termasuk pada golongan ini. Dapat menempuh pendidikan Sekolah Dasar kelas VI hingga tamat SMA. Ciri-cirinya tampak lamban dan membutuhkan bantuan tentang masalah kehidupannya.
2.      RM Sedang (IQ 40-55): sudah tampak sejak anak masih kecil dengan adanya keterlambatan dalam perkembangan, misalnya perkembangan wicara atau perkembangan fisik lainnya. Anak ini hanya mampu dilatih untuk merawat dirinya sendiri, pada umumnya tidak mampu menyelesaikan pendidikan dasarnya, angka kejadian sekitar 12% dari seluruh kasus RM. Anak pada golongan ini membutuhkan pelayanan pendidikan yang khusus dan dukungan pelayanan.
3.      RM Berat (IQ 25-40): sudah tampak sejak lahir, yaitu perkembangan motorik yang buruk dan kemampuan bicara yang sangat minim, anak ini hanya mampu untuk dilatih belajar bicara dan keterampilan untuk pemeliharaan tubuh dasar, angka kejadian 8% dari seluruh RM. Memiliki lebih dari 1 gangguan organik yang menyebabkan keterlambatannya, memerlukan supervisi yang ketat dan pelayanan khusus.
4.      RM Sangat Berat (IQ < 25): sudah tampak sejak lahir yaitu gangguan kognitif, motorik, dan komunikasi yang pervasif. Mengalami gangguan fungsi motorik dan sensorik sejak awal masa kanak-kanak, individu pada tahap ini memerlukan latihan yang ekstensif untuk melakukan “self care” yang sangat mendasar seperti makan, BAB, BAK. Selain itu memerlukan supervisi total dan perawatan sepanjang hidupnya, karena pada tahap ini pasien benar-benar tidak mampu mengurus dirinya sendiri.
Tabel: Klasifikasi Retardasi Mental
Tingkat
Kisaran IQ
Kemampuan Usia Prasekolah
(sejak lahir-5 tahun)
Kemampuan Usia Sekolah
(6-20 tahun)
Kemampuan Masa Dewasa
(21 tahun keatas)
Ringan
52-68
·     Bisa membangun kemampuan sosial & komunikasi
·     Koordinasi otot sedikit terganggu
·     Seringkali tidak terdiagnosis
·     Bisa mempelajari pelajaran kelas 6 pada akhir usia belasan tahun
·     Bisa dibimbing ke arah pergaulan sosial
·     Bisa dididik
Biasanya bisa mencapai kemampuan kerja & bersosialisasi yg cukup, tetapi ketika mengalami stres sosial ataupun ekonomi, memerlukan bantuan
Moderat
36-51
·     Bisa berbicara & belajar berkomunikasi
·     Kesadaran sosial kurang
·     Koordinasi otot cukup
·     Bisa mempelajari beberapa kemampuan sosial & pekerjaan
·     Bisa belajar bepergian sendiri di tempat-tempat yg dikenalnya dengan baik
·     Bisa memenuhi kebutuhannya sendiri dengan melakukan pekerjaan yg tidak terlatih atau semi terlatih dibawah pengawasan
·     Memerlukan pengawasan & bimbingan ketika mengalami stres sosial maupun ekonomi yg ringan
Berat
20-35
·     Bisa mengucapkan beberapa kata
·     Mampu mempelajari kemampuan untuk menolong diri sendiri
·     Tidak memiliki kemampuan ekspresif atau hanya sedikit
·     Koordinasi otot jelek
·     Bisa berbicara atau belajar berkomunikasi
·     Bisa mempelajari kebiasaan hidup sehat yg sederhana
·     Bisa memelihara diri sendiri dibawah pengawasan
·     Dapat melakukan beberapa kemampuan perlindungan diri dalam lingkungan yg terkendali
Sangat berat
19 atau kurang
·     Sangat terbelakang
·     Koordinasi ototnya sedikit sekali
·     Mungkin memerlukan perawatan khusus
·     Memiliki beberapa koordinasi otot
·     Kemungkinan tidak dapat berjalan atau berbicara
·     Memiliki beberapa koordinasi otot & berbicara
·     Bisa merawat diri tetapi sangat terbatas
·     Memerlukan perawatan khusus




B.     Penyebab Retardasi Mental
1.      Faktor Prenatal
Penggunaan berat alkohol pada perempuan hamil dapat menimbulkan gangguan pada anak yang mereka lahirkan yang disebut dengan fetal alcohol syndrome. Faktor-faktor prenatal lain yang memproduksi retardasi mental adalah ibu hamil yang menggunakan bahan-bahan kimia, dan nutrisi yang buruk. (Durand, 2007).
Penyakit ibu yang juga menyebabkan retardasi mental adalah sifilis, cytomegalovirus, dan herpes genital. Komplikasi kelahiran, seperti kekurangan oksigen dan cidera kepala, menempatkan anak pada resiko lebih besar terhadap gangguan retardasi mental. Kelahiran premature juga menimbulkan resiko retardasi mental dan gangguan perkembangan lainnya. Infeksi otak, seperti encephalitis dan meningitis juga dapat menyebabkan retardasi mental. Anak-anak yang terkena racun, seperti cat yang mengandung timah, juga dapat terkena retardasi mental. (Nevid, 2003)
2.      Faktor Psikososial
Seperti lingkungan rumah atau sosial yang miskin, yaitu yang tidak memberikan stimulasi intelektual, penelantaran, atau kekerasan dari orang tua dapat menjadi penyebab atau memberi kontribusi dalam perkembangan retardasi mental. (Nevid, 2002).
Anak-anak dalam keluarga yang miskin mungkin kekurangan mainan, buku, atau kesempatan untuk berinteraksi dengan orang dewasa melalui cara-cara yang menstimulasi secara intelektual akibatnya mereka gagal mengembangkan keterampilan bahasa yang tepat atau menjadi tidak termotivasi untuk belajar keterampilan-keterampilan yang penting dalam masyarakat kontemporer. Beban-beban ekonomi seperti keharusan memiliki lebih dari satu pekerjaan dapat menghambat orang tua untuk meluangkan waktu membacakan buku anak-anak, mengobrol panjang lebar, dan memperkenalkan mereka pada permainan kreatif. Lingkaran kemiskinan dan buruknya perkembangan intelektual dapat berulang dari generasi ke generasi (Nevid, 2002).
3.      Faktor Biologis
a.       Pengaruh genetik. Kebanyakan peneliti percaya bahwa di samping pengaruh-pengaruh lingkungan, penderita retardasi mental mungkin dipengaruhi oleh gangguan gen majemuk (lebih dari satu gen) (Abuelo, 1991, dalam Durand, 2007). Salah satu gangguan gen dominan yang disebut tuberous sclerosis, yang relatif jarang, muncul pada 1 diantara 30.000 kelahiran. Sekitar 60% penderita gangguan ini memiliki retardasi mental (Vinken dan Bruyn, 1972, dalam Durand 2007).
b.      Pengaruh kromosomal. Jumlah kromosom dalam sel-sel manusia yang berjumlah 46 baru diketahui 50 tahun yang lalu (Tjio dan Levan, 1956, dalam Durand, 2007). Tiga tahun berikutnya, para peneliti menemukan bahwa penderita Sindroma Down memiliki sebuah kromosom kecil tambahan. Semenjak itu sejumlah penyimpangan kromosom lain menimbulkan retardasi mental telah teridentifikasi yaitu Down syndrome dan Fragile X syndrome.

C.    Gejala Retardasi Mental
Menurut kriteria DSM-IV-TR untuk gejala anak retardasi mental terbagi dalam tiga kelompok yaitu:
1.      Kriteria pertama, seseorang harus memiliki intelektual yang secara signifikan berada di tingkatan sub average (dibawah rata-rata), yang ditetapkan berdasarkan satu tes IQ atau lebih. Dengan cutoff score yang oleh DSM-IV-TR ditetapkan sebesar 70 atau kurang.
2.      Kriteria Kedua, adanya defisit atau hendaya dalam fungsi adaptif yang muncul beragam setidaknya dua bidang yakni, komunikasi, merawat diri sendiri, mengurus rumah, keterampilan social, interpersonal, pemanfaatan sumber daya di masyarakat, keterampilan akademis, pekerjaan, kesehatan, dan keselamatan.
3.      Kriteria Ketiga, anak dengan retardasi mental ciri intelektual dan kemampuan adaptif  itu harus muncul sebelum mencapai 18 tahun.
Gejala anak retardasi mental menurut (Brown, dkk 1991 dalam Sekar, 2007)  menyatakan:
1.      Lamban dalam mempelajari hal-hal yang baru, mempunyai kesulitan dalam mempelajari pengetahuan abstrak atau yang berkaitan, dan selalu cepat lupa apa yang dia pelajari tanpa latihan yang terus menerus.
2.      Kesulitan dalam menggeneralisasi dan mempelajari hal-hal yang baru.
3.      Kemampuan bicaranya sangat kurang bagi anak retardasi mental berat.
4.      Cacat fisik dan perkembangan gerak. Kebanyakan anak dengan retardasi mental berat mempunyai ketebatasan dalam gerak fisik, ada yang tidak dapat berjalan, tidak dapat berdiri atau bangun tanpa bantuan. Mereka lambat dalam mengerjakan tugas-tugas yang sangat sederhana, sulit menjangkau sesuatu, dan mendongakkan kepala.
5.      Kurang dalam kemampuan menolong diri sendiri. Sebagian dari anak retardasi mental berat sangat sulit untuk mengurus diri sendiri, seperti : berpakaian, makan, dan mengurus kebersihan diri. Mereka selalu memerlukan latihan khusus untuk mempelajari kemampuan dasar.
6.      Tingkah laku dan interaksi yang tidak lazim. Anak tunagrahita ringan dapat bermain bersama dengan anak reguler, tetapi anak yang mempunyai retardasi mental berat tidak melakukan hal tersebut. Hal itu mungkin disebabkan kesulitan bagi anak retardasi mental dalam memberikan perhatian terhadap lawan main.
7.      Tingkah laku kurang wajar yang terus menerus. Banyak anak retardasi mental berat bertingkah laku tanpa tujuan yang jelas. Kegiatan mereka seperti ritual, misalnya : memutar-mutar jari di depan wajahnya dan melakukan hal-hal yang membahayakan diri sendiri, misalnya: menggigit diri sendiri, membentur-beturkan kepala, dan lain-lain.

D.    Pemeriksaan Diagnostik
1.      Uji Laboratorium
a.       Uji intelegensi standar dan uji perkembangan
b.      Pengukuran fungsi adaptif

2.      EEG (Elektro Esenflogram)
a.       Gejala kejang yang dicurigai
b.      Kesulitan mengerti bahasa yang berat
3.      CT atau MRI
a.       Pembesaran kepala
b.      Dicurigai kelainan otak yang luas
c.       Kejang lokal
d.      Dicurigai adanya tumor intra cranial

E.     Terapi Pengobatan
Terapi yang digunakan adalah mengunakan beberapa cara, yaitu diantaranya sebagai berikut:
1.      Terapi baca (dengan pendekatan montesoori). Guru atau orang tua tidak secara langsung mengubah anak tetapi sebaliknya guru mencoba memberi peluang pada anak menyelesaikan tugas dengan usaha sendiri, tanpa bantuan orang dewasa. Tujuan ini bertujuan untuk memberikan edukasi secara dini kepada pasien.
2.      Pilihan bebas (anak diberi kebebasan untu memilih kebutuhan yang sesuai dengan minatnya). Dengan cara ini, aktivitas kehidupan sehari-hari pasien menjadi bagian dari kurikulum yang diberikan.
3.      Terapi perilaku. Konselor memberikan pengetahuan tentang cara pandang si anak tersebut, misalnya tidak mau bermain games, cara pandang terhadap sesuatu dan lain-lain. Terapi ini bertujuan untuk mengubah perilaku yang cenderung agresif dan menciptakan self injury.
4.      Terapi bicara. Konselor memberikan contoh perilaku bicara yang baik, karena pada dasarnya, anak retardasi mental akan terlihat dalam mengucapkan sebuah kata-kata.
5.      Terapi sosialisasi. Pasien diajak untuk dapat berkomunikasi dengan orang lain, yaitu tetap menjalin komunikasi dengan orang lain atau individu di sekitarnya dengan cara bersosialisasi, melakukan interaksi secara verbal sehingga disini akan menumbuhkan rasa percaya diri, perasaan diterima oleh lingkungan, dan motivasi pada diri pasien agar tetap survive dalam menghadapi kehidupan sehari-hari.
6.      Terapi bermain. Pasien dibimbing untuk dapat mengerjakan sesutu hal berupa hasil karya, atau sebuah permainan. Terapi ini bertujuan untuk dapat mengasah kemampuan pasien di bidang kognitif yaitu dengan cara merangsang proses berpikir pasien tentang pola sebuah bentuk sehingga disini pasien diajak untuk dapat merangkai sebuah konstruksi bangunan, kemudian dapat meningkatkan imanjinasi dengan cara merangsang kemampuan imajinasi tentang sesuatu hal yang berada di pikirannya, selain itu dalam segi kreatifitas, yaitu dengan cara meningkatkan dan mengolah kreatifitas pasien dengan paduan warna, pola, bentuk yang berbeda-beda sehingga pasien mempunyai pengetahuan, pemahaman dan keanekaragaman tentang macam-macam jenis permainan atau hasil karya yang dia temui.
7.      Terapi menulis. Cara ini digunakan untuk dapat mempermudah proses berjalannya terapi yaitu dengan cara pasien diajak untuk menulis di selembar kertas berupa serangkaian kata-kata. Tujuan daripada terapi ini adalah untuk melemaskan otot atau syarat tangan dalam beraktivitas sehingga tubuh pasien tidak kaku dan lebih fleksibel dalam menanggapi respon atau stimulus yang berada di sampingnya.
8.      Terapi okupasi. Terapi ini dilakukan dengan cara memijat-mijat bagian syaraf anak tersebut seperti pada bagian pergelangan tangan, kaki dan daerah tubuh lainnya. Terapi ini dilakukan pada saat pasien berusia muda, karena pada masa muda sendi-sendi dalam tubuh pasien masih bersifat elastis dan dapat menyesuaikan dengan bentuk perlakuan yang diberikan.
9.      Terapi musik. Terapi ini dilakukan dengan cara pasien diarahkan untuk dapat mendengarkan dan memaknai sebuah alunan musik. Terapi ini bertujuan untuk dapat mengasah fungsi auditory pasien akan stimulus suara yang di dengarkannya.



F.     Penatalaksanaan
Penatalaksanaan anak dengan retardasi mentaladalah multidimensi dan sangat individual. Tetapi perlu diingat bahwa tidak setiap anak penaganan multidisiplin merupakan jalan terbaik. Sebaiknya dibuat rancangan suatu strategi pendekatan bagi setiap anak secara individual untuk mengembangkan potensi anak tersebut seoptimal mungkin. Untuk itu perlu melibatkan psikolog untuk menilai perkembangan mental anak terutama kemampuan kognitifnya, dokter anak untuk memeriksa perkembangan fisiknya, menganalisis penyebab dan mengobati penyakit atau kelainan yang mungkin ada. Juga kehadiran dari pekerja social kadang-kadang diperlukan untuk menilai situasi keluarganya. Atas dasar itu maka dibuatlah strategi terapi. Sering kali melibatkan lebih banyak ahli lagi, misalnya ahli saraf bila anak juga menderita epilepsy, palsi serebral dll. Psikiater bila anaknya menunjukkan kelainan tingkah laku atau bila orang tuanya membutuhkan dukungan terapi keluarga. Ahli rehabilitasi medis bila diperlukan untuk merangsang perkembangan motorik dan sensoriknya. Ahli terapi wicara untuk memperbaiki gangguan bicaranya atau untuk merangsang perkembangan bicaranya. Serta diperlukan guru pendidikan luar biasa untuk anak-anak yang retardasi mental ini.
Pada orang tuanya perlu diberikan penerangan yang jelas mengenai keadaan anaknya dan apa yang dapat diharapkan dari terapi yang diberikan. Kadang-kadang diperlukan waktu yang lama untuk meyakinkan orang tua mengenai keadaan anaknya maka perlu konsultasi pula dengan psikolog atau psikiater. Disamping itu diperlukan kerja sama yang baik antara guru dan orang tuanya, agar tidak terjadi kesimpangsiuran dalam strategi penanganan anak disekolah dan dirumah. Anggota keluarga lainnya juga harus diberi pengertian agar anak tidak diejek atau dikucilkan. Disamping itu, masyarakat perlu diberikan penerangan tentang retardasi mental agar mereka dapat menerima anak tersebut dengan wajar.
Anak dengan retardasi mental memerlukan pendidikan khusus yang sesuaikan dengan taraf IQ-nya. Mereka digolongkan yang mampu didik untuk golongan retardasi mental ringan dan yang mampu latih untuk anak dengan retardasi mental sedang. Sekolah khusus untuk anak retardasi mental ini adalah SLB-C. Di sekolah ini diajarkan juga keterampilan-keterampilan dengan harapan mereka dapat mandiri di kemudian hari. Di ajarkan pula tentang baik-buruknya suatu tindakan tertentu sehingga mereka diharapkan tidak memerlukan tindakan yang tidak terpuji, seperti mencuri, merampas, kejahatan seksual dan lain-lain.
Semua anak yang retardasi mental ini juga memerlukan perawatan seperti pemeriksaan kesehatan yang rutin, imunisasi dan monitoring terhadap tumbuh kembangnya. Anak-anak ini juga disertai dengan kelainan fisik yang memerlukan penangan khusus. Misalnya pada anak yang mengalami infeksi pranataldengan cytomegalovirus akan mengalami gangguan pendengaran yang progresif walaupun lambat, demikian pula anak dengan sindrom Down dapat timbul gejala hipotiroid. Masalah nutrisi juga perlu mendapat perhatian.

G.    Pencegahan
Karena penyembuhan dari retardasi mental ini boleh dikatakan tidak ada sebab kerusakan dari sel-sel otak tidak mungkin fungsinya dapat kembali normal maka yang penting adalah pencegahan primer yaitu usaha yang dilakukan untuk mencegah terjadinya penyakit. Dengan memberikan perlindungan terhadap penyakit-penyakit yang potensial dapat menyebabkan retardasi mental, misalnya melalui imunisasi. Konseling perkawinan, pemeriksaan kehamilan yang rutin, nutrisi yang baik selama kehamilan dan bersalin pada tenaga kesehatan yang berwenang maka dapat membantu menurunkan angka kejadian retardasi mental. Demikian pula dengan mengentaskan kemiskinan dengan membuka lapangan kerja, memberikan pendidikan yang baik, memperbaiki sanitasi lingkungan, meningkatkan gizi keluarga akan meningkatkan ketahanan terhadap penyakit. Dengan adanya program BKB (Bina Keluarga dan Balita) yang merupakan stimulasi mental dini dan bisa dikembangkan juga deteksi dini maka dapat mengoptimalkan perkembangan anak.
Diagnosis dini sangat penting dengan melakukan skrining sedini mungkin terutama pada tahun pertama maka dapat dilakukan intervensi yang dini pula. Misalnya diagnosis dini dan terpi dini hipotiroid dapat memperkecil kemungkinan retardasi mental. Deteksi dan intervensi dini pada retardasi mental sangat membantu memperkecil retardasi yang terjadi. Konsep intervensi pada retardasi mental yang berdasarkan pemikiran bahwa intervensi dapat merubah status perkembangan anak. Makin sering dan makin dini intervensi dilakukan, maka makin baik hasilnya. Tetapi makin berat tingkat kecacatan maka hasil yang dicapai juga makin kurang. Hasil akhir suatu intervensi adalah makin dini dan teratur suatu intervensi yang diberikan makin baik hasilnya sehingga agak mengurangi kecacatannya. Namun pada anak yang penyebabnya sangat kompleks, latar belakang social dan kebiasaan yang kurang baik dan intervensi yang tidak teratur maka hasilnya juga tidak memuaskan

2. 3       Retardasi Mental dengan Autis
A.    Definisi Autis
Autis adalah suatu gangguan perkembangan yang ditandai dengan kelemahan perkembangan dalam komunikasi, interaksi sosial, dan perilaku. Autis digolongkan menjadi pervasive developmental disorder (PDD), yang merupakan bagian dari suatu gangguan perkembangan berspektrum luas yang mengenai anak-anak kecil dan orang dewasa - Autistic Spectrum Disorder (ASD).
  Menurut ginanjar (2001), autisme adalah ganguan perkembangan yang kompleks  yang di sebabkan oleh adanya kerusakan pada otak, sehingga mengakibatkan ganguan pada perkembangan komunikasi perilaku, kemampuan sosialisasi, sensoris, dan belajar, biasanya sudah mulai tampak pada anak berusia di bawah tiga tahun.
 Sedangkan menurut widyawati (1997), gangguan autisme juga disebut autisme invatif. Gganguan ini merupakan salah satu dari kelompok ganguan perkembangan pervasif yang paling di kenal, dan mempunyai ciri khas:
1.      Adanya ganguan yang menetap pada interaksi sosial, komunikasi yang menyimpan,dan polah tingkah laku yang terbatas serta stereotip
2.      Fungsi yang abnormal ini biasaya muncul sebelum usia 3 tahun.
Saat ini autisme meninbulkan keprihatinan yang mendalam, terutama dari orang tuanya, selain itu, rasa kwaitr timbul pada ibu- ibu muda yang akan melahirkan. Autisme dapat terjadi pada siapa saja, tidak ada status sosial ekonomi, pendidikan , golongan etik atau bangsa. Jumlah kasus yang dilaporkan cenderung menigkatkan dari tahun ke tahun.
Di masa lalu, autis dibingungkan dengan schizophrenia anak-anak atau psikosis anak-anak, dan telah disalahpahami sebagai kelainan kepribadian schizotypal pada orang dewasa. Ketika informasi riset tentang autis tersedia, skup dan definisi kondisi ini terus diperbaiki. Kebanyakan kebingungan di masa lalu tentang gangguan ini telah terpecahkan.

B.     Gejala Autis
Diagnosis dan Statistical Manual of Mental Disorders-Fourth Edition, Treatment Revision (DSM-IV-TR) terbaru mengidentifikasi tiga gambaran yang berhubungan dengan autis:
1.      Lemahnya interaksi sosial
Pertama, pasien-pasien dengan autis gagal mengembangkan interaksi personal normal dalam hampir semua situasi. Ini artinya orang yang mengalaminya gagal untuk membentuk kontak sosial normal yang merupakan suatu bagian penting dalam perkembangan manusia. Kelemahan ini bisa sangat berat yang bahkan berpengaruh bagi ikatan antara seorang ibu dan bayinya.
Penting untuk dicatat, bahwa berlawanan dengan keyakinan yang populer, banyak, jika tidak hampir semua, orang autis mampu menunjukkan afeksi (kasih sayang) dan mendemonstrasikannya dan menunjukkan ikatan dengan ibunya atau orang yang memberinya perhatian. Namun, cara penderita autis mendemonstrasikan afeksi dan ikatan bisa sangat berbeda dengan cara orang normal. Sosialisasi mereka yang terbatas bisa dengan tak menentu menyebabkan orang tua dan dokter anak menjauh dari mempertimbangkan diagnosis autis. Ketika anak berkembang, interaksi dengan orang lain berlanjut menjadi abnormal. Perilaku yang tidak normal meliputi kontak mata, ekspresi wajah, dan postur tubuh.
Biasanya terdapat suatu ketidakmampuan untuk mengembangkan hubungan normal dengan saudara kandung dan teman sebaya dan anak sering terlihat terisolasi. Mungkin ada sedikit atu tidak sam sekali kesenangan atau ketertarikan kepada aktivitas-aktivitas sesuai umurnya. Anak-anak atau orang dewasa yang menderita autis tidak mencari teman sebaya untuk bermain atau interaksi sosial lainnya. Pada kasus yang berat mereka mungkin bahkan tidak memperhatikan keberadaan orang lain.
2.      Komunikasi
Komunikasi biasanya memburuk dengan berat pada orang autis. Apa yang dimengerti oleh seorang individu (bahasa reseptif) juga apa yang benar-benar diucapkan oleh individu tersebut (bahasa ekspresif) secara signifikan terhambat atau tidak ada. Kurangnya pengertian bahasa meliputi ketidakmampuan untuk memahami arah sederhana, pertanyaan mudah, atau perintah sederhana. Mungkin tidak ada permainan berpura-pura atau drama dan anak-anak ini mungkin tidak mampu terlibat dalam permainan dengan game-game untuk anak kecil.
Individu-individu autis yang berbicara mungkin tidak mampu memulai atau berpartisipasi dalam percakapan dua arah (resiprox). Seringnya, cara seorang autis berbicara terasa tidak biasa. Perkataannya mungkin tampak kurang akan emosi normal dan terdengar datar atau monoton. Kalimat-kalimatnya sering sangat kekanak-kanakan: “ingin air” dari yang semestinya ”saya ingin air.” Mereka yang mengalami autis sering mengulang kata atau frase yang dikatakan kepada mereka. Misalnya, anda mungkin berkata “lihat pesawat itu!” dan anak atau orang autis mungkin merespon “lihat pesawat,” tanpa pengetahuan tentang apa yang dikatakan. Pengulangan ini disebut dengan echolalia. Pengingatan dan hafalan terhadap lagu, cerita, iklan atau bahkan naskah lengkap tidaklah jarang. Sementara banyak yang merasa ini merupakan tanda intelijensia, orang autis biasanya tidak tampak mengerti isi dari kata-katanya.
3.      Perilaku
Orang autis sering menunjukkan berbagai pengulangan perilaku abnormal. Terdapat juga suatu hipersensitifitas terhadap input sensoris dalam penglihatan, pendengaran dan sentuhan (taktil). Akibatnya, mungkin terdapat suatu intoleransi ekstrim terhadap suara bising atau kerumunan, stimulasi visual, atau sesuatu yang dirasakan.
 Anak-anak dan orang autis sering terikat pada banyak tugas rutin setiap hari yang mungkin seperti ritual. Sesuatu yang sesederhana mandi mungkin hanya dilakukan setelah jumlah yang tepat air di dalam tempat mandinya, suhu yang tepat, sabun yang sama di tempat yang sama dan bahkan handuk yang sama di tempat yang sama. Perubahan apa pun dari rutinitas itu dapat memicu reaksi yang berat pada individu tersebut dan menempatkan ketegangan yang luarbiasa pada orang dewasa yang berusaha bekerja dengannya.
Bisa juga ada suatu aksi atau perilaku tanpa tujuan yang diulang-ulang. Terus-menerus mengayun, menggeretakkan gigi, memilin rambut atau jari, bertepuk tangan dan berjalan pada ujung jari tidak jarang dilakukan. Sering ada keasyikan dengan suatu ketertarikan yang sangat terbatas atau pada suatu alat permainan tertentu.

C.    Penyebab Autis
Sejak autis pertama kali ditambahkan ke literatur psikiatri 50 tahun lalu, telah ada sejumlah penelitian dan teori tentang penyebabnya. Para peneliti masih belum mencapai kesepakatan mengenai penyebab spesifik nya. Pertama, harus diketahui bahwa autis adalah sekumpulan berbagai gejala yang luas dan mungkin mempunyai banyak penyebab. Konsep ini lazim di dunia medis.
Misalnya, sekumpulan gejala yang kita rasakan sebagai “dingin” dapat disebabkan oleh ratusan virus yang berbeda, bakteri dan bahkan sistem imun kita sendiri. Autis tidak diragukan lagi adalah kelainan dengan dasar biologis. Di masa lalu, beberapa peneliti mengatakan bahwa autis adalah akibat buruknya skil kasih sayang pada ibu. Kepercayaan ini telah menyebabkan banyak rasa sakit dan bersalah yang tidak perlu pada orang tua anak autis, ketika nyatanya ketidakmampuan pada individu dengan autis untuk berinteraksi dengan baik merupakan satu gejala kunci dari kelainan perkembangan ini.
Mendukung teori biologis autis, beberapa kelainan saraf yang telah diketahui berhubungan dengan gambaran autis. Autis adalah satu dari gejala kelainan-kelainan ini. Kondisi-kondisi ini termasuk tuberous sclerosis (suatu kelainan keturunan), fragile X syndrome, cerebral dysgenesis (perkembangan abnormal otak), Rett syndrome, dan beberapa kelainan metabolisme bawaan (defek biokimia). Autis, tampaknya merupakan hasil akhir dari “jalur umum akhir” dari banyak kelainan yang mengenai perkembangan otak. Namun, umumnya, ketika klinisi membuat diagnosis autis, mereka mengeluarkan penyebab-penyebab yang telah diketahui dari perilaku autis sebagai pertimbangan. Namun, jika pengetahuan tentang kondisi-kondisi yang menyebabkan autis mengalami kemajuan, semakin dan semakin sedikit kasus yang akan dipikirkan sebagai “murni” autis dan lebih banyak individu akan diidentifikasi mengalami autis karena sebab tertentu.
Terdapat hubungan yang erat antara autis dan kejang. Hubungan ini bekerja dalam dua cara: pertama banyak pasien (20-30%) dengan autis mengalami kejang. Kedua, pasien dengan kejang, yang mungkin disebabkan oleh penyebab lain, bisa mengalami perilaku seperti autis. Satu yang khusus dan sering disalahpahami hubungan antara autis dan kejang adalah Landau-Kleffner Syndrome. Sindrom ini juga dikenal dengan acquired epileptic aphasia. Beberapa anak dengan epilepsi mengalami suatu kehilangan tiba-tiba kemampuan berbahasa khususnya reseptif language (kemampuan untuk mengerti). Banyak juga yang sering mengalami gejala autis.
Anak-anak ini sering, tapi tidak selalu, mempunyai suatu pola khas aktivitas kelistrikan otak yang tampak pada EEG ((electroencephalogram) selama tidur pulas yang disebut electrographic status epilepticus during sleep (ESES). Biasanya umur munculnya kehilangan atau penurunan kemampuan berbahasa adalah sekitar 4 tahun, yang membuat Landau-Kleffner syndrome bisa dibedakan dari autis dalam hal ini, pada autis biasanya pertama kali muncul pada anak yang lebih kecil. Namun, pada tahun-tahun terakhir ini, beberapa anak (sangat sangat sedikit) yang tidak menunjukkan adanya kejang yang bisa teramati diketahui mempunyai Landau-Kleffner syndrome.
Terapi lain mulai dari terapi obat antikejang umum sampai terapi pembedahan telah diajukan dan dicoba pada Landau-Kleffner syndrome. Sulit untuk mengevaluasi efek sebenarnya dari terapi untuk Landau-Kleffner syndrome dikarenakan tingginya angka sembuh spontan.

D.    Karakteristik Penderita Autis
Gejala anak autis bisa dilihat dini,karena coba perhatikan perkembangan anak dalam setiap tahap tiap tahap terkadang orang tua tidak terlalu peka terhadap tingkah laku anak,jangan sampai terlambat.walau autis ini tidak penyakit,tetapi ganguan kelemahan terhadap sistem saraf akibat faktor genetika yang lemah.untuk itu perlu perhatian extra dalam penanganan anak penyangdang autis sejak awal.
Adapun ciri-ciri anak autisme menurut usia:
1.      Usia 0 -6 bulan. Apabila anak terlalu tenang dan jarang menangis,terlalu sensitif,gerakan tangan dan kaki yang terlalu berlebihan terutama pada saat mandi.tidak perna terjadi kontak mata atau senyum secara sosial,dan digendongkan mengepal tangan atau menegangkan kaki secara berlebihan.
2.      Usia 6-12 bulan. Kalau digendongkan kaku atau tegang dan tidak berinteraksi atau tidak tertarik pada mainan atau tidak beraksi terhadap suara atau kata.dan selalu memandang suatu benda atau tanganya sendiri secara lama.itu akibat terlambat dalam perkembangan motorik halus dan kasar
3.      Usia 2-3 tahun. Tidak berminat atau bersosialisasi terhadap anak-anak lain,dan kotak mata tidak menyambung dan tidak pernah fokus.juga kaku terhadap orang lain dan masih senang di gendong dan malas mengerakan tubuhnya.
4.      Usia 4-5 tahun. Sukanya anak ini berteriak-teriak dan suka membeo atau menudukan suara orang lain dan mengeluarkan suara-suara yang aneh.dan gampang marah atau emosi apabila rutinitasnya  di gangu dan kemauannya tidak di turuti dan agresif dan mudah menyakiti diri sendiri.
Sejak lahir sampai dengan umur 24-30 bulan anak-anak yang terkenal autisme umumnya terlihat normal.selain itu orang tua mulai melihat perubahan seperti keterlambatan berbicara,berbain dan berteman.

E.     Terapi pada Penderita Autis
Salah informasi tentang autis sangat lazim. Klaim atas penyembuhan untuk autis selalu dihadapkan pada keluarga dengan individu autis. Ada bermacam-macam model terapi yang ditemukan dalam wilayah edukasi maupun klinis. Namun, hanya ada satu pendekatan terapi yang berlaku selama ini dan efektif bagi semua orang yang autis maupun tidak. Model terapi ini adalah program pendidikan yang sesuai dengan derajat perkembangan performa murid. Untuk orang dewasa, model terapi itu mengacu pada program kejuruan yang sesuai dengan derajat perkembangan fungsi.
Sesuai dengan Individuals with Disabilities Educational Act (IDEA) tahun 1990, murid dengan kecacatan dijamin dengan suatu “pendidikan tepat” di Least Restrictive Environment (LRE) yang biasanya dibuat sebagai tempat pendidikan senormal mungkin. Sebagai hasil dari peraturan ini, anak-anak autis umumnya ditempatkan di ruang kelas khusus dan pelayanan tambahan apa pun yang diperlukan dicabut. Tergantung pada kebutuhan anak-anak, dia ditempatkan pada 100% hari sekolah di dalam tempat pendidikan khusus.
Namun, ada trend yang meningkat di antara para pengacara anak-anak autis, untuk memencilkan anak-anak ini ke tempat pendidikan yang kecil, yang sangat terkontrol dan terstruktur yang semaximal mungkin terbebas dari stimulasi suara dan penglihatan.semua instruksi dipecah-pecah menjadi segmen-segmen yang bisa dikelola. Informasi ada dalam unit-unit yang sangat kecil dan respon anak segera dicari. pendekatan respon stimulus klasik digunakan untuk memaksimalkan belajar. Tiap unit informasi dikuasai sebelum yang lain diberikan. Perilaku dasar seperti meletakkan tangan di atas meja, misalnya, harus dikuasai sebelum anak diharuskan melakukan tugas lain, atau sebelum informasi lebih banyak lagi diberikan.
Individu autis harus diajarkan bagaimana berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain. Ini bukan tugas yang mudah, dan melibatkan seluruh keluarga juga profesional. Orang tua penderita autis harus terus-menerus mendidik dirinya sendiri tentang terapi baru dan tetap berpikiran terbuka.
Penting untuk diingat, meskipun sekarang ini banyak disangkal, bahwa autis merupakan kondisi yang hampir seumur hidup. Terapi akan berubah ketika individu tumbuh. Keluarga harus hati-hati dengan program terapi yang memberi harapan palsu akan kesembuhan. Penerimaan kondisi ini dalam keluarga sangatlah penting, komponen dasar dari semua program terapi dan sangat sulit untuk dimengerti.

2. 4       Penerapan Teknik Komunikasi Terapeutik
Dapat disimpulkan dari konsep di atas, teknik komunikasi yang dilakukan sangat sederhana namun sukar untuk dilakukan. Jangan menganggap pasien sebagai orang yang rendah, mereka sama seperti kita, namun mereka memiliki kekurangan yang tidak dapat berkomunikasi layaknya orang normal.
Berikut beberapa teknik yang dapat diterapkan:
1.      Perjelas kata-kata yang diucapkan klien dengan  mengulang kembali, biasanya orang yang terkena retardasi mental berbicara kurang jelas
2.      Melakukan interaksi secara verbal sehingga disini akan menumbuhkan rasa percaya diri
3.      Batasi topik dan buat topik tentang hal yang disukainya
4.      Ciptakan lingkungan yang respondif dan kaya akan bahasa sehingga memungkinkan anak untuk berkomunikasi
5.      Jangan menyinggung kata-kata yang klien ucapkan
6.      Berikan klien kesempatan jika ingin berbicara sesuatu (dikutip dari: http://thefuturisticlovers.wordpress.com)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar